Sepele, tapi banyak yang melakukan?

©𝓹𝓲𝓷𝓽𝓮𝓻𝓮𝓼𝓽

Berhati-hatilah, mungkin kamu bisa menipu manusia, tapi tidak dengan Allah yang maha mengetahui.

👤”Kita putus dulu ya, nanti habis lebaran baru hubungan kita ini (pacaran/hts/dsb) dilanjutkan.”

👤”Berhubung lagi puasa, pacarannya habis buka sampai nanti sahur aja ya sayang.”

👤”Chatingannya dilanjut nanti ya? Biar puasanya ga batal.”

👤”Sayang, selama puasa kita ga komunikasi dulu ya.”

Dan masih banyak lagi.

Mereka menganggap hal ini sepele. “Tidak masalah, asalkan selama puasa tidak bermaksiat (pacaran, hts, dll)”. Entah sesama muslim, atau dengan orang yang berbeda agama sekalipun (hubungannya).

Allah tidak bisa ditipu, wahai manusia. Sadarlah! Memang tidak membatalkan puasa dengan apa yang dilakukan orang-orang tersebut. Bahkan puasanya tetap sah. Hanya saja, PUASANYA SIA-SIA. Kok bisa? Mereka hanya mendapatkan rasa lapar dan haus, tidak berpahala.

Sia-sia dong puasanya? Ya, betul sekali. Sudah menahan lapar, menahan haus, menahan diri dari hal-hal yang tidak baik, eh tidak mendapat pahala. Wallahu a’lam.

Sekali lagi saya ingatkan, pacaran tidak hanya dilakukan orang yang berstatus PACARAN. Tapi, mereka yang HTS-an (hubungan tanpa status), TTM (teman tapi mesra), dan apapun itu status hubungannya, JIKA AKTIVITAS YANG DILAKUKAN SAMA SEPERTI ORANG-ORANG YANG BERPACARAN, maka sama saja hukumnya. Entah secara langsung atau tidak (virtual: chat, telp., vc, dll).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32)

Ingatlah, zina itu banyak jenisnya. Ada zina mata, zina hati, zina pikiran, dll. Kamu berdua-duaan dengan seseorang yang bukan mahram kamu tanpa ada kepentingan, itu juga termasuk. Apalagi sampai pegangan tangan, gandengan, pelukan, dsb. Butuh berapa banyak ayat lagi untuk menyadarkan? Bahwa perbuatan itu adalah perbuatan dosa.

Satu hal yang perlu kamu ingat. Hubunganmu dengan dia (yang bukan mahram), yang mendapatkan dosa bukan hanya kamu saja, tapi orang-orang disekitarmu juga. Entah temanmu, saudaramu, atau bahkan orangtuamu, yang tahu hukumnya bahwa hal itu dosa. Jika mereka tidak mengingatkan kamu, mereka juga mendapat dosa. Mau mengingatkan tidak berani, perkewuh. Mereka takut jika mengingatkan, malah berujung timbul perselisihan, bisa memutus hubungan pertemanan bahkan hubungan persaudaraan kalian. Kalau mau berbuat dosa, setidaknya berbuat sendiri, tanggung sendiri akibatnya! Jangan membuat orang-orang disekitarmu mendapatkan dosa karena perbuatanmu itu. Yang berbuat siapa, eh yang nanggung siapa. Bahkan mereka yang mendukung hubungan harammu itu juga mendapatkan dosa jariyah selama hubunganmu itu masih berjalan.

Jika kamu mau sadar, ya alhamdulillah. Jika tidak? Ya tidak masalah, tugas saya hanyalah mengingatkan. Semoga saja kamu dan mereka yang masih memiliki hubungan haram itu segera mendapatkan hidayah dan bertaubat kepada Allah. Saya tahu, saya juga pendosa. Bahkan, bisa jadi dosa saya lebih banyak dari kamu. Saya mengingatkan, bukan karena merasa saya paling alim, paling banyak pahala. Bukan! Tapi sebagai seorang muslim, saya memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan kebaikan.

Ayolah, sudahi hubunganmu dengannya. Lebih baik fokus memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan memperbaiki diri sendiri. Kuatkan keimanannya.

“Tidak berpacaran adalah bentuk ketaatan kepada Allah, dan bentuk kasih sayang kepada orang tua.”

©𝓐𝓵𝓭𝓪 𝓡.

Hari Kasih Sayang?

Banyak orang yang mengistimewakan bulan Februari, khususnya tanggal 14 yang diperingati sebagai hari kasih sayang (Valentine Day). Tahukah kamu bagaimana asal-muasalnya?

Sejarah
📌 Budaya ini bermula pada abad ke-3 M, saat raja Romawi yang bernama Claudius menghukum pancung seorang pendeta bernama Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 269 M. Santo Valentine dihukum pancung karena menikahkan seorang prajurit muda peserta wajib militer kerajaan yang ingin menikah.
©𝚖𝚞𝚑𝚊𝚖𝚖𝚊𝚍𝚒𝚢𝚊𝚑.𝚌𝚘.𝚒𝚍

📌 Lupercalia (festival kesuburan yang dirayakan pada tanggal 15 Februari untuk menghormati dewa Lupercus, dewa ternak dan kesuburan). Dalam festival ini, para pemuda akan memukul para gadis dengan kulit domba yang dibasahi darah sebagai simbol kesuburan, mereka akan mengundi nama gadis yang akan menjadi pasangannya selama setahun. Banyak pasangan yang akhirnya menikah setelah berkenalan dalam festival ini.
Ketika agama Kristen menyebar di Romawi, gereja mencoba mengganti tradisi pagan ini dengan perayaan yang lebih sesuai dengan ajaran Kristen.
Maka, mereka memilih tanggal 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentinus, salah satu martir Kristen yang dianggap sebagai pelindung para pencinta.
©𝚒𝚗𝚝𝚒𝚜𝚊𝚛𝚒.𝚐𝚛𝚒𝚍.𝚒𝚍

Penting
Tapi mirisnya, di akhir zaman ini, banyak pemuda-pemudi muslim yang ikut merayakan dan memperingati Valentine Day. Padahal kalau dilihat dari sejarah munculnya valentine day ini, perayaan ini bukanlah dari agama Islam. Dan dapat dipastikan, dalam praktiknya sangat menyimpang dari ajaran agama islam.

Kenapa banyak yang merayakan, bahkan seorang muslim juga?
Sebagai hari kasih sayang, di tanggal 14 Februari, orang-orang merayakan dengan orang terkasihnya, khususnya orang tersayang ‘pasangan’. Entah suami/istrinya, pacarnya, htsnya, teman dekatnya, dll.
“Kan cuma ngasih cokelat, masa ga boleh?”
Ya memang tidak boleh. Islam tidak mengajarkan Valentine Day ini. Itu bukan budaya kita (muslim).

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Selain itu, merayakan valentine day sama saja mengundang perbuatan zina (zina itu banyak jenisnya, contoh sederhananya: berdua-duaan dengan pacar/hts/dll (yang bukan mahramnya), pegangan tangan, dll). Padahal sudah jelas bahwa zina juga termasuk dosa besar. (QS. Al-isra’ ayat 32)

Hanya memberikan ucapan selamat saja tidak boleh, apalagi ikut merayakan V’Day. Sebagai seorang muslim, tidak perlu ikut merayakan hari kasih sayang, apalagi sampai memberikan hadiah, juga cokelat, dan pernak-pernik lainnya.

Stop menormalisasi perayaan Valentine Day, walaupun hanya sekedar mengucapkan selamat!

©𝓐𝓵𝓭𝓪 𝓡.

9 Jenis Maksiat

Buku : Kitab Sullamut Taufiq
Penulis : Syekh Imam Nawawi Banten
Penerjemah : K.H. Moch. Anwar & H. Anwar Abubakar, Lc.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

Ringkasan;
✏️MAKSIAT HATI
1. Ria dengan amal kebaikan.
2. Meragukan adanya Allah.
3. Takabur/sombong.
4. Hiqdu/dendam.
5. Hasud (membenci kenikmatan yang ada pada orang lain).
6. Mengungkit kebaikan.
7. Buruk sangka kepada Allah.
8. Gembira melakukan maksiat.
9. Menipu dan membenci sahabat Nabi beserta keluarga dan orang saleh.
10. Bakhil (enggan melaksanakan kewajiban dari Allah).

✏️MAKSIAT PERUT
1. Memakan barang riba dan hasil pungli.
2. Menggasab (memakan/mengambil barang orang lain terang-terangan tanpa izin dan ingin memilikinya).
3. Minum arak.
4. Memakan sesuatu yang memabukkan, barang najis, dan barang yang dianggap menjijikan.
5. Memakan hak orang lain (harta anak yatim, harta wakaf, dan suap).

✏️MAKSIAT MATA
1. Laki-laki memandang perempuan ajnabi (bukan mahram).
2. Perempuan memandang laki-laki ajnabi (bukan mahram).
3. Melihat aurat seseorang yang mahram (sesama laki-laki, maupun sesama perempuan).
4. Memandang orang dengan sinis.
5. Melihat keadaan rumah orang lain tanpa izin.
6. Menyaksikan perbuatan maksiat.

✏️MAKSIAT LISAN
1. Mengumpat.
2. Namimah (mengadu domba).
3. Berdusta dan menuduh.
4. Bersaksi palsu.
5. Memaki, mencerca, mengutuk, dan mengolok-olok.
6. Meniup suling atau memainkan calung.
7. Menyembunyikan ilmu yang wajib disebarkan.

✏️MAKSIAT TELINGA
1. Mendengarkan perkataan orang yang merahasiakan perkataannya.
2. Mendengarkan suling dan thunbur (semacam biola).
3. Sengaja mendengarkan umpatan, hasutan, dan perkataan yang diharamkan.

✏️MAKSIAT TANGAN
1. Mengurangi timbangan/ukuran dalam jual beli.
2. Mencuri, merebut, merampas, membegal, dan menggasab.
3. Membunuh.
4. Memberi dan/ menerima suapan.
5. Menyiksa binatang.
6. Bermain yang mengandung unsur perjudian (dadu, sintir, dll).
7. Bermain dengan alat musik (suling, rebab, thunbur, terompet, dll).
8. Meraba seseorang yang bukan mahram dengan sengaja.
9. Menggambar makhluk bernyawa.
10. Menahan zakat.

✏️MAKSIAT KELAMIN
1. Zina.
2. Liwath.
3. Menghadap kiblat saat BAK & BAB.

✏️MAKSIAT KAKI
1. Bepergian menuju kemaksiatan.
2. Angkuh ketika berjalan dan melangkahi bahu seseorang.
3. Menjulurkan kaki ke mushaf /Al-Qur’an.

✏️MAKSIAT BADAN
1. Menyakiti kedua orang tua.
2. Lari dari medan perang.
3. Memutus silaturahmi.
4. Laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
5. Membatalkan ibadah fardhu tanpa udzur syar’i.
6. Meniru seseorang dengan tujuan mengolok-olok.
7. Bertato.
8. Memusuhi orang muslim lebih dari 3 hari (kecuali karena udzur syar’i).
9. Berduaan dengan yang bukan mahram.
10. Menggunakan ilmu sihir.


Dan masih banyak lagi.

Maka dari itu, banyak-banyak memohon ampun kepada Allah dan segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput. Karena, kematian bisa datang kapan saja.


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).


Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Setelah mengetahui dan memahami ilmunya, sampaikan ilmu itu kepada orang lain dan mulai amalkan dalam kehidupan.

©𝓐𝓵𝓭𝓪 𝓡.